Oleh: sukma ragil | November 4, 2008

Perjalanan dakwah Muhammad hingga Hijrah ke Madinah

RINGKASAN PERJALANAN ISLAM DI MASA NABI MUHAMMAD HINGGA HIJRAH

A. Latar Belakang Bangsa Arab sebelum diutusnya Muhammad sebagai Rosululloh à by narator

Nenek moyang bangsa arab sesungguhnya adalah Nabi Ibrahim. Akan tetapi selang beberapa ratus tahun berselang setelah wafatnya nabi Ibrahim, agama tauhid yang dibawa oleh beliau dengan sengaja diputarbalikkan, diubah, direka, ditambah, dan dikurangi oleh bangsa arab yang hidup sesudahnya. Pada dasarnya mereka percaya dan yakin bahwa Alloh itu ada dan Alloh itu Maha Esa. Mereka juga yakin bahwa hanya Alloh lah yang maha mencipta segenap mahluk, yang mengurus, yang mengatur, dan yang memberi segala sesuatu yang dihajatkan oleh segenap mahluk. Akan tetapi dalam menyembah Alloh, mereka (kaum jahiliyah quraisy) dengan sengaja membuat dan mengadakan berbagai perantara yang diharapkan bisa lebih mendekatkan diri mereka kepada Alloh. Perantara-perantara inilah yang lama-kelamaan justru mereka agung-agungkan, mereka cintai dan mereka ibadahi selayaknya cinta dan ibadah kepada Alloh. Beberapa sesembahan selain Alloh yang sering di-ibadahi, antara lain:

  1. Menyembah Malaikat à Merka menganggap malaikat adalah wakil Alloh dalam memberikan segala yang diminta atau yang mereka hajatkan. Bahkan ada yang mengangap bahwasanya malaikat adalah anak perempuan Alloh. Naudzubillah.
  2. Menyembah Jin, Ruh à Selanjutnya diantara mereka ada juga yang meyakini bahwasanya jin-jin dan ruh-ruh para nenek moyang yang telah meninggal dunia, memiliki hubungan keturunan yang dekat dengan para malaikat, sehingga dengan sendirinya mereka menyimpulkan jin-jin dan ruh-ruh tersebut juga mempunyai hubungan keturunan juga kepada Alloh. Karena itulah mereka menyembah jin-jin dan ruh-ruh orang yang sudah meninggal dunia. Kaitannya dengan hal tersebut, mereka juga menghormati dan memuliakan tempat-tempat yang mereka pandang sebagai tempatnya jin.
  3. Menyembah bintang-bintang à Mereka menganggap bahwasanya bintang, matahari, dan bulan yang bersinar tersebut telah diberi kekuasaan yang besar oleh Alloh untuk mengatur alam semesta raya ini. Oleh karena itulah mereka meyakini bahwa bintang, matahari, dan bulan sudah sepatutnya disembah.
  4. Menyembah berhala à Latar belakang penyembahan mereka kepada berhala adalah akibat sangat cintanya mereka kepada Ka’bah, sehingga batu-batuan yang ada di sekitar ka’bah tersebut terkadang mereka bawa dan mereka melakukan ritual ibadah haji seperti tawaf kepada batu tersebut, dengan harapan akan mendapatkan berkah dari ka’bah. Lama kelamaan karena hawa nafsunya, mereka dengan sengaja membuat sendiri arca-arca atau berhala-berhala yang mereka letakkan disekitar ka’bah untuk mereka ibadahi dan sembah selayaknya mereka beribadah kepada Alloh.

Adat kebiasaan dan moral bangsa arab sebelum diutusnya Muhammad sebagai rosululloh adalah:

  1. Percaya tahayul
  2. Suka meminum arak
  3. Perjudian
  4. Pelacuran
  5. Pencurian dan perampokan
  6. Kekejaman
  7. Kekotoran dalam masalah makan dan minum
  8. Tidak mempunyai kesopanan
  9. Pertengkaran dan perkelahian

Itulah sekelumit kondisi  masyarakat jahiliyah quraisy.

B. Diutusnya Muhammad sebagai Rosululloh dan konsekuensi dakwah beliau.

* Siksaan Umayyah kepada Bilal à scene 1

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Sholallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah, Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.


Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya…”

Tokoh:

Bilal, Umayyah bin Khalaf, Abu Bakar, pemuka quraisy lainnya

* Sikap dan Islam nya Abu Dzar al Ghifari à scene 3

Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi’at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi’at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.

Nama lengkapnya yang mashur ialah Jundub bin Junadah Al Ghifari dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Serta merta berita ini sangat mengganggu penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya bernama Unais Al Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair Arab. Berangkatlah Unais ke Makkah untuk mencari tau apa sesungguhnya yang terjadi di Makkah berkenaan dengan berita kemunculan utusan Allah itu. Dan setelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Ditanyakan oleh Abu Dzar kepada Unais : “Apa yang telah kamu lakukan ?”, tanyanya. Unais menjelaskan : “Aku sungguh telah menemui seorang pria yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang jelek”.

Abu Dzar bertanya lagi : “Apa yang dikatakan orang-orang tentangnya ?”.

Unais menjawab : “Orang-orang mengatakan, bahwa dia adalah tukang sya’ir, tukang tenung, dan tukang sihir. Tetapi aku sesungguhnya telah biasa mendengar omongan tukang tenung, dan tidaklah omongannya serupa dengan omongan tukang tenung. Dan aku telah membandingkan omongan darinya dengan omongan para tukang sya’ir, ternyata amat berbeda omongannya dengan bait-bait sya’ir. Demi Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan mereka yang mencercanya adalah dusta”.

Mendengar laporan dari Unais itu, Abu Dzar lebih penasaran lagi untuk bertemu sendiri dengan orang yang berada di Makkah yang mengaku telah mendapatkan berita dari langit itu. Segeralah dia berkemas untuk berangkat menuju Makkah, demi menenangkan suara hatinya itu. Dan sesampainya dia di Makkah, langsung saja menuju Ka’bah dan tinggal padanya sehingga bekal yang dibawanya habis. Dia sempat bertanya kepada orang-orang Makkah, siapakah diantara kalian yang dikatakan telah meninggalkan agama nenek moyangnya ? bu Dzar memang amat berhati-hati, dalam kondisi hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam. Dan orangpun di Makkah dalam keadaan takut dan kuatir untuk mendekat kepada beliau sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam, karena siapa yang mendekat kepadanya bila dia adalah dari kalangan budak belian, akan menghadapi hukuman berat dari tuannya. Demikian pula bila dari kalangan pendatang dan tidak mempunyai qabilah pelindungnya di Makkah. Demi keadaan yang demikian mencekam, Abu Dzar tidak gegabah berbicara dengan semua orang dalam hal apa yang sedang dicarinya dan apa yang diinginkannya.

Di suatu hari yang cerah, Abu Dazar bernasib baik. Sedang dia berdiri di salah satu pojok Ka’bah, lewat di hadapan beliau Ali bin Abi Thalib dan langsung menegurnya, apakah engkau orang pendatang di kota ini ? Segera saja Abu Dzar menjawabnya : Ya !

“Apa sesungguhnya urusanmu, dan apa pula yang mendatangkanmu ke mari ?”, Tanya Ali

“Bila engkau berjanji akan merahasiakan jawabanku, aku akan menjawab pertanyaanmu”, jawab Abu Dzar

Langsung saja Ali menyatakan janjinya : “Aku berjanji untuk menjaga rahasiamu”. Dan Abu Dzar tidak ragu lagi dengan janji pemuda Quraisy yang terhormat ini, sehingga dengan setengah berbisik dia menjelaskan kepada Ali : “Telah sampai kepada kami berita, bahwa telah keluar seorang Nabi”. Mendengar kata-kata Abu Dzar itu Ali menyambutnya dengan gembira dan menyatakan kepadanya : “Engkau sungguh benar dengan ucapanmu ?! ikutilah aku kemana aku berjalan dan masuklah ke rumah yang aku masuki. Dan bila aku melihat bahaya yang mengancammu, maka aku akan memberi isyarat kepadamu dengan berdiri mendekat ke tembok dan aku seolah-olah sedang memperbaiki alas kakiku. Dan bila aku lakukan demikian, maka segera engkau pergi menjauh”. Maka Abu Dzarpun mengikuti Ali kemanapun dia berjalan, dan dengan tidak mendapati halangan apa-apa, akhirnya dia sampai juga di hadapan Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dan langsung menanyakan kepada beliau. Inilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan ketika Rasulullah menawarkan Islam kepadanya, segera Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam berwasiat kepadanya : “Wahai Aba Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami”.

Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam: “Demi yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa aku telah masuk Islam”. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.

Segera saja Abu dzar menuju Masjidil Haram dan di hadapan Ka’bah banyak berkumpul para tokoh-tokoh kafir Quraisy. Demi melihat banyaknya orang berkumpul padanya, Abu Dzar berteriak dengan sekeras- keras suara dengan menyatakan : “Wahai orang-orang Quraisy, aku sesungguhnya telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku bersaksi pula Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah”.

Mendengar omongan itu, para dedengkot kafir Quraisy marah besar dan mereka berteriak memerintahkan orang-orang di situ : “Bangkitlah kalian, kejar orang murtad itu”. Maka segera orang-orang mengerumuni Abu Dzar sembari memukulinya dengan nafsu ingin membunuhnya. Syukurlah waktu itu masih ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib tokoh Bani Hasyim paman Rasulillah yang disegani kalangan Quraisy. Sehingga Al Abbas berteriak kepada masyarakat yang sedang beringas memukuli Abu Dzar : “Celakalah kalian, apakah kalian akan membunuh seorang dari kalangan Bani Ghifar yang kalian harus melalui kampungnya di jalur perdagangan kalian”. Demi masyarakat mendapat teriakan demikian, merekapun melepaskan Abu Dzar yang telah babak belur bersimbah darah akibat dari pengeroyokan itu. Demikianlah Abu Dzar, sosok pria pemberani yang bila meyakini kebenaran sesuatu perkara, dia tidak akan peduli menyatakan keyakinannya di hadapan siapapun meskipun harus menghadapi resiko seberat apapun. Dan apa yang dihadapinya hari ini, tidak menciutkan nyalinya untuk mengulang proklamasi keimanannya di depan Ka’bah menantang para dedengkot kafir Quraisy. Keesokan harinya dia mengulangi proklamasi keimanan yang penuh keberanian itu, dan teriakan syahadatainnya menimbulkan kembali berangnya para tokoh kafir Quraisy. Sehingga mereka memerintahkan untuk mengeroyok seorang Abu Dzar untuk kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya ini, Al Abbas berteriak lagi seperti kemarin dan Abu Dzarpun dilepaskan oleh masa yang sedang mengamuk itu dalam keadaan babak belur bersimbah darah seperti kemaren.

Setelah dia puas membikin marah orang-orang kafir Quraisy dengan proklamasi masuk Islamnya, meskipun dia harus beresiko hampir mati dikeroyok masa. Barulah dia bersemangat melaksanakan wasiat Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam untuk pulang ke kampungnya di kampung Bani Ghifar. Abu Dzar pulang ke kampungnya, dan di sana dia rajin menda’wahi keluarganya. Unais Al Ghifari, adik kandungnya, telah masuk Islam, kemudian disusul ibu kandungnya yang bernama Ramlah bintu Al Waqi’ah Al Ghifariah juga masuk Islam. Sehingga separoh Bani Ghifar telah masuk Islam. Adapun separoh yang lainnya, telah menyatakan bahwa bila Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam telah hijrah ke Madinah maka mereka akan masuk Islam. Maka segera saja mereka berbondong-bondong masuk Islam setelah sampainya berita di kampung mereka bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam telah hijrah ke Al Madinah An Nabawiyah.

Tokoh: Abu Dzar, Ali bin Abi Tholib, Abbas bin Abdul Mutholib, Unais, dan pemuka quraisy yang ikut memukuli Abu Dzar

* Islam nya Umar bin Khattab à scene 4

Kaum minoritas muslim yang sebagian besar penganut baru sering dianiaya. Mereka sulit melaksanakan ajaran agama secara terbuka, juga tak boleh shalat di Ka’bah. Sementara itu, markas Besar Rasul, dimana ia sering memberi pengajaran pada shahabatnya, berlokasi di sekitar bukit Shafa, di rumah Arqam. Orang-orang muslim mengunjungi tempat ini, belajar Alquran dan bahkan kadang-kadang nginap beberapa hari. Selain ditempa di Rumah Arqam oleh Rasul, orang-orang muslim saling mengujungi antar sesama. Rumah Rasul, tentu saja juga menjadi bagian yang sangat penting.


Suatu pagi di kediaman Rasul, suasana begitu mengharukan. Kabar sampai ke pihak mereka bahwa Abu Jahl, musuh besar islam yang lain, bersama Umar, sedang merencanakan rangkaian penganiayaan terhadap penganut Islam. Karena itu, sebagian yang hadir di rumah Rasul ketika itu hanya ada dua pilihan, yakni bersembunyi atau disiksa. Salah seorang di antara mereka berucap,
“Masalahnya tidak cukup jumlah kita untuk mengadakan perlawanan, lihatlah! Lagipula, beberapa di antara kita adalah bekas budak, dan sebagaian besar masih terlalu muda. Apa yang kita bisa lakukan melawan kaum Quraish yang besar? Sebenarnya kita butuh orang-orang kuat di antara kita.”

Yang lain senyum sedih, tetapi setuju, mendengar ungkapan itu. Nabi yang berada di tengah mereka, perlahan menegadahkan tangan sambil berdoa, “Ya Allah, Tunjukilah kami dan Kuatkanlah Islam. Beri petunjuk Abu Jahl Ibnu Hisyam atau Umar Ibnu Khattab. Ya Allah, siapa pun dari keduanya yang Engkau cintai, tunjuki ia ke Islam. Semua yang hadir mendengar doa itu, dan menirukannya dalam hati. Seketika Rasul selesai berdoa, serentak terdengar ucapan, Aamin.

Kegoncangan Umar

Suatu malam, ia tak tahan lagi, puncak amarah menembus ubun-ubunnya. Ia memutuskan untuk segera saja menghabisi jiwa orang yang dianngapnya biang kerok. Segera ia mengambil pedang, menghunusnya, lalu keluar rumah. Sisa purnama masih ada. Orang-orang sepanjang jalan sulit untuk tidak mengenali Singa padang Pasir yang lagi geram ini.

Tak lama kemudian, ia berpapasan dengan sepupunya Nu’aim ibnu Abdullah Annahm. Mata Nuaim hampir silau oleh pedang Umar yang mengkilat terhunus. Nu’aim yang agak gugup mencoba tetap diam. Tapi kemudian bertanya dengan lembut,
“Hendak kemana Umar?”
Umar yang di puncak amarah, setengah berteriak,
“Kemana!?… ha!! masih tanya juga! kemana lagi kalau bukan untuk menghabisi orang yang selama ini menjadi biang kerok, orang yang telah menghina agama nenek moyang Quraish serta merendahkan Tuhan-tuhan kita.”

Nuaim diam. “Orang itu tak akan menghina lagi”, sambung Umar sembari menebaskan pedangnya ke udara. Orang-orang yang rumahnya di pinggiran jalan hanya kuasa mengintip dari balik jendela. Sementara Nuaim kendati gugup punya keberanian menimpali,
“Siapa yang mengajarimu bahwa Kamu dapat membunuh Muhammad dengan mudah? Apa Kamu pikir, kalo berhasil membunuhnya lalu kamu bisa bebas begitu saja? Apa Kamu tidak sadar akan jumlah darah balasan yang akan dimintakan oleh pihak Banu Hasyim terhadap banu kita, banu Abi?”

Keduanya, kelihatan sedang beradu argumen. “Aku tahu sekarang! Engkau juga sudah tersihir oleh Muhammad”, balas Umar.
“Mendekatlah ke sini, akan kuobati engkau dengan pedang ini”, lanjut Umar.
“Engkau tertipu”, kata Nuaim menimpali. “Ternyata Engkau tak tahu bahwa saudaramu sendiri seorang muslim. Yah… Fatimah dan Suaminya, Said jauh lebih bijaksana dari pada Engkau. Mereka berdua tidak dungu untuk berpegang teguh pada ajaran jahilliyah begitu mereka mendengar kebenaran.”

“Bohong!”, bantah Umar. Ia kemudian merubah arah jalannya, menuju rumah saudaranya itu. “Jika demikian, maka merekalah yang harus mampus lebih dulu”, ketusnya. Jarak ke rumah Fatimah cukup jauh, karena itu amarah Umar sempat mereda sesampai di depan pintu. Ia mendengar penghuni rumah sedang membacakan Ayat-ayat Quran. Sejenak Umar berhenti. Lalu diketuknya pintu agak keras. Seisi rumah, Fatimah, suaminya Said dan Habbab, pembimbing mereka, berhenti membaca Quran.
“Siapa di luar?”, tanya Fatimah.
“Umar ibnu Khattab!”

Mendengar suara itu, Habbab gugup lalu menuju ke kamar, bersembunyi.
“Cepat, sembunyikan rontal itu”, bisik Said. Fatimah kemudian memasukkannya ke dalam gaungnya. Umar kembali mengetuk dengan ketukan yang lebih keras. Said membuka pintu, dan tampak olehnya Umar dengan pedang terhunus.
“Kalian sedang apa? Kamu pikir saya tak mendengarnya?”, gertak Umar.

“Tidak ada apa-apa”, jawab Fatimah tenang. “Kami sedang ngobrol biasa. “Umar naik pitam, “Bohong! Pengecut!” katanya. “Saya tahu bahwa kamu ikut tersihir”. Fatimah dan Said saling berpandangan. Lalu Said kemudian berujar, “Kini Umar telah tahu, tak ada yang patut disembunyikan. Tapi ketahuilah Umar, kebenaran itu bukan seperti yang Anda pahami”.

Ucapan ini keterlaluan bagi Umar. Ia marah, dan mencoba menyerang Said. Umar terlalu kuat, Said terjatuh. Menyaksikan itu, Fatimah menghentak Umar, dengan sekuat tenaga mencoba membela Suaminya, sekaligus saudara Muslimya.

“Lepaskan Dia!” Merasa terhalangi, Umar menampar saudara perempuannya sendiri. Pipi Fatimah merah, tapi ia menantang Umar, “Hai musuh Allah!”, katanya. “Engkau membenci kami hanya karena kami beriman?” “Benar”, kata Umar. ” Sekarang, lakukan apa saja yang kau mau”, Suara Fatimah menyambar bagai petir. “Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah. Engkau tak kuasa mengubah keyakinan kami. Apapun yang terjadi, kami tak akan pernah meninggalkan Islam. Umar terkesan mendengar keteguhan hati saudarinya itu, amarahnya seperti tersiram salju. Perlahan-lahan, Umar mereda.

Kemudian dengan suara perlahan, ia berkata, “Baiklah Saudariku! perlihatkanlah padaku apa yang sedang kalian baca! Sekiranya ia mengadung kebenaran, apa salahnya engkau memberi tahu aku.”

Fatimah ragu, ia memandang suaminya. “Saya berjanji tak akan membuangnya”, tambah Umar. “Akan Aku kembalikan”, Umar meyakinkan. “Baiklah!”, sahut Fatimah. “Tapi, basuh duluh wajahmu dengan air, Engkau tidak dalam kondisi membaca ayat suci”.

Umar kemudian menuju mengambil air, Habbab keluar dari kamar berbisik,
“Bagaimana engkau percaya pada orang yang demikian keras dan kejam?” “Aku tahu karakter saudaraku”, jawab Fatimah. Malah saya punya harapan besar bahwa Allah akan memberinya petunjuk. Habbab, meyaksikan Umar, kembali bersembunyi. Dengan doa dalam hati, Fatimah menyerahkan ayat Al-Quran itu pada saudaranya.

Umar membaca:
Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy (QS Thaahaa : 1-6)

Umar tertegun akan keagungan ayat-ayat suci itu. Segera ia insyaf akan kekeliruannya selama ini. Mata hatinya kini terbuka, tak mungkin ada Tuhan lain selain Allah. Muhammad kini diakuinya sebagai benar-benar Nabi. Kata yang pertama terucap baginya setelah membaca,
“Cepat! Dimana Muhammad? Beri tahulah aku!” Ipar dan saudarinya berdiri. Habbab yang keluar dari persembunyian berbisik pada Said, “Apakah ini menunjukan bahwa Doa Nabi terkabul?” Said diam saja, sembari memberi kode pada Fatimah, untuk memberi tahu di mana Nabi.

Pedang yang terhunus sejak awal disarungkan kembali oleh Umar. Ia kemudian menuju Rumah Arqam. Di dalam, Nabi dan para shahabat sedang duduk, Hamzah dan Talha berjaga di depan pintu. Umar mengetuk. “Siapa di luar?”, tanya Talha. Umar memberi respons, dan seketika suasana terdiam. Melihat gelagat para shahabat seolah ketakutan, Hamzah berucap, “Kenapa takut? Mungkin ia datang dengan maksud baik, untuk memeluk islam. Kalau tidak, tak soal, kita dengan mudah bisa meringkusnya.”

Ia kemudian memberi isyarat pada Talha untuk membuka pintu. Umar melangkah masuk. Hamzah dan Talha memegang tangan Umar dan membawanya menuju Nabi. Tapi, Nabi meminta mereka berdua untuk membiarkan Umar. Umar tak melangkah lagi. Nabi mendekat, Beliau membisiki Umar meletakkan pedang. Umar tak kuasa menolak, ia pasrah, bahkan berkesan tak bergerak. Nabi lalu angkat bicara, “Umar! Tinggalkanlah perbuatan maksiat, sebelum murka Allah menimpamu. Umar, terimalah Islam. Allah, beri dia petunjuk.”

Umar hanya bisa menjawab, “Apa yang seharusnya saya ucapkan?” Hamzah pun bicara, “Persaksikan bahwa Tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah”. Umar menoleh ke arah Hamzah, lalu ke arah Nabi, kemudian Umar berucap,
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Engkau Muhammad adalah Rasul Allah”.

Mendengar deklarasi itu, para shahabat serentak berucap, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Belum semenit memeluk Islam, Umar menambah kekuatan pada barisan kaum muslimin. Dukungannya terhadap Islam begitu antusias, melebihi antusiasnya ketika sebagai musuh. “Ya Rasulullah, kita harus memperjuangkan kebenaran ini sekarang juga?” Ya, tentu saja, jawab Nabi SAW. Kalau begitu, mari kita keluar memproklamirkan keyakinan kita ini secara terbuka, Ayo! Kita shalat di depan Ka’bah”.

Rasulullah mengiyakan. Para shahabat kemudian berbaris dua menuju Ka’bah yang satu dipimpin oleh Umar, lainnya lagi oleh Hamzah, keduanya adalah pemimpin Makkah yang sangat disegani. Antusiasme keislaman Umar dibuktikan dengan mendatangi beberapa pemimpin utama kaum Quraish, termasuk paman Nabi sendiri, Abu Jahal. Bukan itu saja, Ia bahkan mendatangi kerumunan kaum kafir seorang diri memproklamirkan keislamanya. Orang yang berani mempersalahkannya dihadapinya semua. Tapi, memang inilah yang diharapkan Umar. Keislaman Umar mengubah peta kekuatan Kota Mekah. Kaum kafir quraish tak semena-mena lagi melakukan penganiayaan terhadap kaum minoritas muslim.

 

ini adalah ringkasan dari naskah film Hijrah yang dtulis seorang teman baik saya, sahabat saya, tito. FILM hijrah ini diperankan oleh apprentices kami di SMK Sumberdaya Bekasi pada tahun 2008 lalu.

 


Responses

  1. SEMESTINYA CERITANYA HARUS LEBI LENGKAP…
    ITULAH SARAN SAYA…!!!


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: