Oleh: sukma ragil | September 15, 2014

Mistisme & Cinta Agung dalam Lirik (Letto 1.0)

Baru tahu saya,  Ya ALLAH…

Subhanalloh,..

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton rekaman Show Jamaah Maiyyah di Aditivi, bahkan sampai dua kali. Di akhir show, Cak Nun, memberitahukan kepada seluruh Salik jamaah, tentang makna di balik lagu Sabrang alais Letto yang notabene anggota jamaah maiyah dan sekaligus anak beliau sendiri.

Tentang lagu yang berjudul “Sebelum Cahaya”:

bahwa dalam lirik lagu ini, diibaratkan oleh Sabrang / Letto, ALLAH AZZA WA JALLA sedang menghibur Kekasihnya, Rasulillah SAW.

Subhanalloh, betapa saya sangat terharu. Apalagi, lagu ini secara khusus dan seluruh album Letto secara umum, memiliki nilai sentimental sendiri untuk saya. Lagu ini telah hadir dalam suatu fase hidup kelam hingga terang, dan memiliki kedalaman makna luar biasa untuk perjalanan ruhani dan Cinta saya.

Berikut Lirik Lengkapnya

Ku teringat hati yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi yang kautempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta

Reff :
Ingatkan engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkan engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu cinta

Kekuatan hati yang berpegang janji
Genggamlah tanganKu cinta
Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu cinta

Back to reff

Notes:

*  Letto merupakan sebuah grup musik Indonesia yang pertama kali dibentuk tahun2004. Grup musik asal Yogyakarta ini beranggotakan Noe (Sabrang Mowo Damar Panuluh, Yogyakarta 10 Juni 1979) sebagai vokalis, Patub (Agus Riyono, Yogyakarta, 2 Agustus 1979) sebagai gitaris, Arian (Ari Prastowo, Bantul, 27 Maret 1979) sebagai bassis, dan Dhedot (Dedi Riyono, Yogyakarta, 23 Januari1987) sebagai drummer. Vokalis Letto, Noe, adalah putra penyair Emha Ainun Nadjib. Anggota grup musik ini telah bersahabat sejak masih sekolah di SMU 7 Yogyakarta. Setelah berpisah akibat kesibukan kuliah, mereka akhirnya bertemu kembali dan berkarya bersama. [1]

Untuk lebih lengkapnya tentang Letto, bisa melihat wikipedia link berikut:

http://id.wikipedia.org/wiki/Letto

Dan, untuk lebih memperkaya pemahaman dan pengalaman batin tentang lagu Letto, monggo diaturi melihat blog berikut:

http://jendelahabibi.blogspot.com/2009/05/sufisme-dalam-lirik-lagu-letto1.html

Oleh: sukma ragil | Maret 9, 2010

Cara Menikmati Cerutu



Mengenal Cerutu

Sebagaimana diketahui, banyak orang yang mempunyai kebiasaan merokok Sigaret dan tidak sedikit pula orang yang merokok Cigar (Cerutu) yang harganya reatif lebih mahal. Bahkan para penikmat cerutu pemula terutama kaum muda pria dan wanitayang mulai berminat untuk merokok cerutu hadir di Cigar Club di kota-kota besar.

Merokok cerutu telah menjadi symbol status dan menjadi salah satu alternative merokok yang sehat, Karena cara merokok cerutu tidak sama dengan merokok biasa.

Cara Memilih Cerutu
Memilih cerutu yang sesuai untuk dirokok merupakan pekerjaan yang cukup sulit terutama bagi perokok pemula, mengingat banyaknya cerutu yang tersedia dengan bentuk dan cita rasa yang berbeda-beda.

Cerutu rasa mild sampai medium kemungkinan besar lebih diterima bagi pemula daripada cerutu yang berat (full).

Jika dihubungkan dengan jam-jam tertentu dalam satu hari, maka biasanya pilihan mengarah pada cerutu kecil dengan cita rasa mild untuk pagi hari, cerutu ukuran dan rasa medium untuk siang hari dan cerutu dengan rasa lebih kuat serta ukuran lebih besar setelah makan malam.

Kebanyakan perokok cerutu cenderung setia pada ukuran cerutu yang sudah biasa dihisap. Hal ini berkaitan dengan rasa cerutu, karena cerutu dengan komposisi tembakau yang sama dan ukuran berbeda relative memiliki cita rasa yang berbeda pula.

Cara Memotong Cerutu
Pekerjaan yang perlu dilakukan sebelum menyulut cerutu adalah memotong cerutu pada bagian kepala (head/cap/flag). Bagian tersebut merupakan potongan tembakau kecil yang berfungsi menutup bagian akhir dari cerutu.

Panjang pemotongan sangat relative, tergantung ukuran cerutu dan konstruksi cap itu sendiri. Biasanya pemotongan dilakukan sekitar 1/16 – 1/8 inches dari panjang cerutu, luas pemotongan sekitar 75 % – 85 % dari luasan cap.

Pendekatan dari ukuran tersebut adalah dengan melakukan pemotongan sedikit diatas cap sebelum lengkungan cap menjadi lurus.

Pemotongan yang terlalu rendah akan menghasilkan lubang kurang besar sehingga sulit dihisap. Sebaliknya pemotongan yang terlalu tinggi kemungkinan besar akan merusak kontruksi wrapper.

Ada tiga tipe pemotongan ujung hisap cerutu, antara lain :
1. Tipe lurus
Tipe pemotongan lurus merupakan tipe potongan yang umum digunakan dan kebanyakan menggunakan alat model guillotine.
2. Tipe Lubang (Punch)
Lubang dibuat dengan cutter model punch dan tipe ini merupakan alternative untuk mengatasi masalah tentang luasan atau panjang cap yang harus dipotong.
3. Tipe V (V-Cut)
Tipe potongan V menghasilkan bidang potongan seperti huruf V, penggunaan tipe ini mengurangi adanya kekhawatiran mengenai panjang cap yang harus dipotong. Beberapa orang berpendapat kalau tipe ini cenderung menghasilkan potongan yang kurang bagus dan pembakaran tidak merata.

Cara Menyulut Cerutu

Pada waktu menyulut sebatang cerutu yang dibakar adalah ujung cerutu bagian kaki (foot). Beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum sebatang cerutu dapat dihisap antara lain :


1. Memanasi ujung cerutu diatas nyala korek api sambil memutar-mutar cerutu agar pemanasan merata pada bidang bakar yang dikehendaki. Diusahakan nyala api tidak langsung menyentuh ujung bakar cerutu, hal ini semata untuk mendapatkan hasil pembakaran yang sempurna
2. Mulai menghisap cerutu dengan meneruskan pembakaran dan cerutu tetap diputar-putar sampai ujung bakar cerutu terbakar dengan sempurna. Pembakaran yang kurang tepat akan berpengaruh terhadap kerataan terbakarnya cerutu

Cara Menghisap Cerutu
Menghisap sebatang cerutu tidak sama dengan menikmati rokok biasa. Asap yang dihisap/disedot hanya sampai di rongga mulut untuk dinikmati cita rasa yang ada didalamnya, bukan dihisap/disedot seperti rokok biasa.

Selanjutnya asap dihembuskan pelan-pelan lewat mulut (bukan lewat hidung) dan begitu seterusnya sampai hisapan terakhir.

Menghisap cerutu sebaiknya pada kondisi yang tenang, sehingga hisapan demi hisapan dapat dinikmati dengan tenang pula.

Cerutu yang dihisap terlalu cepat akan menimbulkan rasa panas dan merusak cita rasa, sebaliknya cerutu yang dihisap terlalu lambat akan cenderung mati.

Menikmati asap cerutu di mulut dan menghembuskan asap juga melalui mulut.

Oleh: sukma ragil | Februari 25, 2010

Wejangan Mbah Kakung

foto nasihat

Oleh: sukma ragil | Februari 24, 2010

Prosedur Jual-Beli Tanah

Jual beli merupakan proses peralihan hak yang sudah ada sejak jaman dahulu, dan biasanya diatur dalam hukum Adat, dengan prinsip: Terang dan Tunai. Terang artinya di lakukan di hadapan Pejabat Umum yang berwenang, dan Tunai artinya di bayarkan secara tunai. Jadi, apabila harga belum lunas, maka belum dapat dilakukan proses jual beli dimaksud. Dewasa ini, yang diberi wewenang untuk melaksanakan jual beli adalah Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang terdiri dari:
1.PPAT sementara -> adalah Camat yang diangkat sebagai PPAT untuk daerah -daerah terpencil
2.PPAT -> Notaris yang diangkat berdasarkan SK Kepala BPN untuk wilayah kerja tertentu

Data-data apa saja yang harus dilengkapi untuk proses Jual Beli & balik nama tersebut?
Dalam transaksi jual beli tanah dan/atau bangunan tersebut, biasanya PPAT yang bersangkutan akan meminta data-data standar, yang meliputi:
I. Data tanah, meliputi:
   a.asli PBB 5 tahun terakhir berikut Surat Tanda Terima Setoran (bukti bayarnya)
   b.Asli sertifikat tanah (untuk pengecekan dan balik nama)
   c.asli IMB (bila ada, dan untuk diserahkan pada Pembeli setelah selesai proses AJB)
   d.bukti pembayaran rekening listrik, telpon, air (bila ada)
   e.Jika masih dibebani Hak Tanggungan (Hipotik), harus ada Surat Roya dari Bank yang  
     bersangkutan

Catatan: point a & b mutlak harus ada, tapi yang selanjutnya optional

II. Data Penjual & Pembeli (masing-masing) dengan kriteria sebagai berikut:
    a.Perorangan:
    a.1. Copy KTP suami isteri
    a.2. Copy Kartu keluarga dan Akta Nikah
    a.3. Copy Keterangan WNI atau ganti nama (bila ada, untuk WNI keturunan)
    b.Perusahaan:
    b.1. Copy KTP Direksi & komisaris yang mewakili
    b.2. Copy Anggaran dasar lengkap berikut pengesahannya dari Menteri kehakiman dan HAM
    RI
    b.3. Rapat Umum Pemegang Saham PT untuk menjual atau Surat Pernyataan Sebagian kecil
    asset
   c.Dalam hal Suami/isteri atau kedua-duanya yang namanya tercantum dalam sertifikat sudah meninggal dunia, maka yang melakukan jual beli tersebut adalah Ahli Warisnya. Jadi, data-
data yang diperlukan adalah:
   c.1. Surat Keterangan Waris
      -Untuk pribumi: Surat Keterangan waris yang disaksikan dan dibenarkan oleh Lurah yang dikuatkan oleh Camat
      -Untuk WNI keturunan: Surat keterangan Waris dari Notaris
   c.2. Copy KTP seluruh ahli waris
   c.3. Copy Kartu keluarga dan Akta Nikah
   c.4. Seluruh ahli waris harus hadir untuk tanda-tangan AJB, atau Surat Persetujuan dan kuasa dari seluruh ahli waris kepada salah seorang di antara mereka yang dilegalisir oleh Notaris (dalam hal tidak bisa hadir)
   c.5. bukti pembayaran BPHTB Waris (Pajak Ahli Waris), dimana besarnya adalah 50% dari BPHTB jual beli setelah dikurangi dengan Nilai tidak kena pajaknya.

Nilai tidak kena pajaknya tergantung dari lokasi tanah yang bersangkutan.
Contoh Perhitungannya:
-NJOP Tanah sebesar Rp. 300juta, berlokasi di wilayah bekasi:
Nilai tidak kena pajaknya wilayah bekasi adalah sebesar Rp. 250jt. Jadi pajak yang harus di bayar =
{(Rp. 300jt – Rp. 250jt) X 5%} X 50%.
Jadi, apabila NJOP tanah tersebut di bawah Rp. 250jt, maka penerima waris tidak dikenakan BPHTB Waris (Pajak Waris)

Sebelum dilaksanakan jual beli, harus dilakukan:
1. Pengecekan keaslian dan keabsahan sertifikat tanah pada kantor pertanahan yang berwenang
2. Para pihak harus melunasi pajak jual beli atas tanah dan bangunan tersebut.
Dimana penghitungan pajaknya adalah sebagai berikut:
-Pajak Penjual (Pph) = NJOP/harga jual X 5 %
-Pajak Pembeli (BPHTB) =
{NJOP/harga jual – nilai tidak kena pajak} X 5%

Sumber:
http://irmadevita.com/2007/09/27/jual-beli-balik-nama-sertifikat/

Oleh: sukma ragil | November 4, 2008

Perjalanan dakwah Muhammad hingga Hijrah ke Madinah

RINGKASAN PERJALANAN ISLAM DI MASA NABI MUHAMMAD HINGGA HIJRAH

A. Latar Belakang Bangsa Arab sebelum diutusnya Muhammad sebagai Rosululloh à by narator

Nenek moyang bangsa arab sesungguhnya adalah Nabi Ibrahim. Akan tetapi selang beberapa ratus tahun berselang setelah wafatnya nabi Ibrahim, agama tauhid yang dibawa oleh beliau dengan sengaja diputarbalikkan, diubah, direka, ditambah, dan dikurangi oleh bangsa arab yang hidup sesudahnya. Pada dasarnya mereka percaya dan yakin bahwa Alloh itu ada dan Alloh itu Maha Esa. Mereka juga yakin bahwa hanya Alloh lah yang maha mencipta segenap mahluk, yang mengurus, yang mengatur, dan yang memberi segala sesuatu yang dihajatkan oleh segenap mahluk. Akan tetapi dalam menyembah Alloh, mereka (kaum jahiliyah quraisy) dengan sengaja membuat dan mengadakan berbagai perantara yang diharapkan bisa lebih mendekatkan diri mereka kepada Alloh. Perantara-perantara inilah yang lama-kelamaan justru mereka agung-agungkan, mereka cintai dan mereka ibadahi selayaknya cinta dan ibadah kepada Alloh. Beberapa sesembahan selain Alloh yang sering di-ibadahi, antara lain:

  1. Menyembah Malaikat à Merka menganggap malaikat adalah wakil Alloh dalam memberikan segala yang diminta atau yang mereka hajatkan. Bahkan ada yang mengangap bahwasanya malaikat adalah anak perempuan Alloh. Naudzubillah.
  2. Menyembah Jin, Ruh à Selanjutnya diantara mereka ada juga yang meyakini bahwasanya jin-jin dan ruh-ruh para nenek moyang yang telah meninggal dunia, memiliki hubungan keturunan yang dekat dengan para malaikat, sehingga dengan sendirinya mereka menyimpulkan jin-jin dan ruh-ruh tersebut juga mempunyai hubungan keturunan juga kepada Alloh. Karena itulah mereka menyembah jin-jin dan ruh-ruh orang yang sudah meninggal dunia. Kaitannya dengan hal tersebut, mereka juga menghormati dan memuliakan tempat-tempat yang mereka pandang sebagai tempatnya jin.
  3. Menyembah bintang-bintang à Mereka menganggap bahwasanya bintang, matahari, dan bulan yang bersinar tersebut telah diberi kekuasaan yang besar oleh Alloh untuk mengatur alam semesta raya ini. Oleh karena itulah mereka meyakini bahwa bintang, matahari, dan bulan sudah sepatutnya disembah.
  4. Menyembah berhala à Latar belakang penyembahan mereka kepada berhala adalah akibat sangat cintanya mereka kepada Ka’bah, sehingga batu-batuan yang ada di sekitar ka’bah tersebut terkadang mereka bawa dan mereka melakukan ritual ibadah haji seperti tawaf kepada batu tersebut, dengan harapan akan mendapatkan berkah dari ka’bah. Lama kelamaan karena hawa nafsunya, mereka dengan sengaja membuat sendiri arca-arca atau berhala-berhala yang mereka letakkan disekitar ka’bah untuk mereka ibadahi dan sembah selayaknya mereka beribadah kepada Alloh.

Adat kebiasaan dan moral bangsa arab sebelum diutusnya Muhammad sebagai rosululloh adalah:

  1. Percaya tahayul
  2. Suka meminum arak
  3. Perjudian
  4. Pelacuran
  5. Pencurian dan perampokan
  6. Kekejaman
  7. Kekotoran dalam masalah makan dan minum
  8. Tidak mempunyai kesopanan
  9. Pertengkaran dan perkelahian

Itulah sekelumit kondisi  masyarakat jahiliyah quraisy.

B. Diutusnya Muhammad sebagai Rosululloh dan konsekuensi dakwah beliau.

* Siksaan Umayyah kepada Bilal à scene 1

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Sholallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah, Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.


Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya…”

Tokoh:

Bilal, Umayyah bin Khalaf, Abu Bakar, pemuka quraisy lainnya

* Sikap dan Islam nya Abu Dzar al Ghifari à scene 3

Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi’at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi’at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.

Nama lengkapnya yang mashur ialah Jundub bin Junadah Al Ghifari dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Serta merta berita ini sangat mengganggu penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya bernama Unais Al Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair Arab. Berangkatlah Unais ke Makkah untuk mencari tau apa sesungguhnya yang terjadi di Makkah berkenaan dengan berita kemunculan utusan Allah itu. Dan setelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Ditanyakan oleh Abu Dzar kepada Unais : “Apa yang telah kamu lakukan ?”, tanyanya. Unais menjelaskan : “Aku sungguh telah menemui seorang pria yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang jelek”.

Abu Dzar bertanya lagi : “Apa yang dikatakan orang-orang tentangnya ?”.

Unais menjawab : “Orang-orang mengatakan, bahwa dia adalah tukang sya’ir, tukang tenung, dan tukang sihir. Tetapi aku sesungguhnya telah biasa mendengar omongan tukang tenung, dan tidaklah omongannya serupa dengan omongan tukang tenung. Dan aku telah membandingkan omongan darinya dengan omongan para tukang sya’ir, ternyata amat berbeda omongannya dengan bait-bait sya’ir. Demi Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan mereka yang mencercanya adalah dusta”.

Mendengar laporan dari Unais itu, Abu Dzar lebih penasaran lagi untuk bertemu sendiri dengan orang yang berada di Makkah yang mengaku telah mendapatkan berita dari langit itu. Segeralah dia berkemas untuk berangkat menuju Makkah, demi menenangkan suara hatinya itu. Dan sesampainya dia di Makkah, langsung saja menuju Ka’bah dan tinggal padanya sehingga bekal yang dibawanya habis. Dia sempat bertanya kepada orang-orang Makkah, siapakah diantara kalian yang dikatakan telah meninggalkan agama nenek moyangnya ? bu Dzar memang amat berhati-hati, dalam kondisi hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam. Dan orangpun di Makkah dalam keadaan takut dan kuatir untuk mendekat kepada beliau sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam, karena siapa yang mendekat kepadanya bila dia adalah dari kalangan budak belian, akan menghadapi hukuman berat dari tuannya. Demikian pula bila dari kalangan pendatang dan tidak mempunyai qabilah pelindungnya di Makkah. Demi keadaan yang demikian mencekam, Abu Dzar tidak gegabah berbicara dengan semua orang dalam hal apa yang sedang dicarinya dan apa yang diinginkannya.

Di suatu hari yang cerah, Abu Dazar bernasib baik. Sedang dia berdiri di salah satu pojok Ka’bah, lewat di hadapan beliau Ali bin Abi Thalib dan langsung menegurnya, apakah engkau orang pendatang di kota ini ? Segera saja Abu Dzar menjawabnya : Ya !

“Apa sesungguhnya urusanmu, dan apa pula yang mendatangkanmu ke mari ?”, Tanya Ali

“Bila engkau berjanji akan merahasiakan jawabanku, aku akan menjawab pertanyaanmu”, jawab Abu Dzar

Langsung saja Ali menyatakan janjinya : “Aku berjanji untuk menjaga rahasiamu”. Dan Abu Dzar tidak ragu lagi dengan janji pemuda Quraisy yang terhormat ini, sehingga dengan setengah berbisik dia menjelaskan kepada Ali : “Telah sampai kepada kami berita, bahwa telah keluar seorang Nabi”. Mendengar kata-kata Abu Dzar itu Ali menyambutnya dengan gembira dan menyatakan kepadanya : “Engkau sungguh benar dengan ucapanmu ?! ikutilah aku kemana aku berjalan dan masuklah ke rumah yang aku masuki. Dan bila aku melihat bahaya yang mengancammu, maka aku akan memberi isyarat kepadamu dengan berdiri mendekat ke tembok dan aku seolah-olah sedang memperbaiki alas kakiku. Dan bila aku lakukan demikian, maka segera engkau pergi menjauh”. Maka Abu Dzarpun mengikuti Ali kemanapun dia berjalan, dan dengan tidak mendapati halangan apa-apa, akhirnya dia sampai juga di hadapan Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dan langsung menanyakan kepada beliau. Inilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan ketika Rasulullah menawarkan Islam kepadanya, segera Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam berwasiat kepadanya : “Wahai Aba Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami”.

Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam: “Demi yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa aku telah masuk Islam”. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.

Segera saja Abu dzar menuju Masjidil Haram dan di hadapan Ka’bah banyak berkumpul para tokoh-tokoh kafir Quraisy. Demi melihat banyaknya orang berkumpul padanya, Abu Dzar berteriak dengan sekeras- keras suara dengan menyatakan : “Wahai orang-orang Quraisy, aku sesungguhnya telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku bersaksi pula Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah”.

Mendengar omongan itu, para dedengkot kafir Quraisy marah besar dan mereka berteriak memerintahkan orang-orang di situ : “Bangkitlah kalian, kejar orang murtad itu”. Maka segera orang-orang mengerumuni Abu Dzar sembari memukulinya dengan nafsu ingin membunuhnya. Syukurlah waktu itu masih ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib tokoh Bani Hasyim paman Rasulillah yang disegani kalangan Quraisy. Sehingga Al Abbas berteriak kepada masyarakat yang sedang beringas memukuli Abu Dzar : “Celakalah kalian, apakah kalian akan membunuh seorang dari kalangan Bani Ghifar yang kalian harus melalui kampungnya di jalur perdagangan kalian”. Demi masyarakat mendapat teriakan demikian, merekapun melepaskan Abu Dzar yang telah babak belur bersimbah darah akibat dari pengeroyokan itu. Demikianlah Abu Dzar, sosok pria pemberani yang bila meyakini kebenaran sesuatu perkara, dia tidak akan peduli menyatakan keyakinannya di hadapan siapapun meskipun harus menghadapi resiko seberat apapun. Dan apa yang dihadapinya hari ini, tidak menciutkan nyalinya untuk mengulang proklamasi keimanannya di depan Ka’bah menantang para dedengkot kafir Quraisy. Keesokan harinya dia mengulangi proklamasi keimanan yang penuh keberanian itu, dan teriakan syahadatainnya menimbulkan kembali berangnya para tokoh kafir Quraisy. Sehingga mereka memerintahkan untuk mengeroyok seorang Abu Dzar untuk kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya ini, Al Abbas berteriak lagi seperti kemarin dan Abu Dzarpun dilepaskan oleh masa yang sedang mengamuk itu dalam keadaan babak belur bersimbah darah seperti kemaren.

Setelah dia puas membikin marah orang-orang kafir Quraisy dengan proklamasi masuk Islamnya, meskipun dia harus beresiko hampir mati dikeroyok masa. Barulah dia bersemangat melaksanakan wasiat Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam untuk pulang ke kampungnya di kampung Bani Ghifar. Abu Dzar pulang ke kampungnya, dan di sana dia rajin menda’wahi keluarganya. Unais Al Ghifari, adik kandungnya, telah masuk Islam, kemudian disusul ibu kandungnya yang bernama Ramlah bintu Al Waqi’ah Al Ghifariah juga masuk Islam. Sehingga separoh Bani Ghifar telah masuk Islam. Adapun separoh yang lainnya, telah menyatakan bahwa bila Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam telah hijrah ke Madinah maka mereka akan masuk Islam. Maka segera saja mereka berbondong-bondong masuk Islam setelah sampainya berita di kampung mereka bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam telah hijrah ke Al Madinah An Nabawiyah.

Tokoh: Abu Dzar, Ali bin Abi Tholib, Abbas bin Abdul Mutholib, Unais, dan pemuka quraisy yang ikut memukuli Abu Dzar

* Islam nya Umar bin Khattab à scene 4

Kaum minoritas muslim yang sebagian besar penganut baru sering dianiaya. Mereka sulit melaksanakan ajaran agama secara terbuka, juga tak boleh shalat di Ka’bah. Sementara itu, markas Besar Rasul, dimana ia sering memberi pengajaran pada shahabatnya, berlokasi di sekitar bukit Shafa, di rumah Arqam. Orang-orang muslim mengunjungi tempat ini, belajar Alquran dan bahkan kadang-kadang nginap beberapa hari. Selain ditempa di Rumah Arqam oleh Rasul, orang-orang muslim saling mengujungi antar sesama. Rumah Rasul, tentu saja juga menjadi bagian yang sangat penting.


Suatu pagi di kediaman Rasul, suasana begitu mengharukan. Kabar sampai ke pihak mereka bahwa Abu Jahl, musuh besar islam yang lain, bersama Umar, sedang merencanakan rangkaian penganiayaan terhadap penganut Islam. Karena itu, sebagian yang hadir di rumah Rasul ketika itu hanya ada dua pilihan, yakni bersembunyi atau disiksa. Salah seorang di antara mereka berucap,
“Masalahnya tidak cukup jumlah kita untuk mengadakan perlawanan, lihatlah! Lagipula, beberapa di antara kita adalah bekas budak, dan sebagaian besar masih terlalu muda. Apa yang kita bisa lakukan melawan kaum Quraish yang besar? Sebenarnya kita butuh orang-orang kuat di antara kita.”

Yang lain senyum sedih, tetapi setuju, mendengar ungkapan itu. Nabi yang berada di tengah mereka, perlahan menegadahkan tangan sambil berdoa, “Ya Allah, Tunjukilah kami dan Kuatkanlah Islam. Beri petunjuk Abu Jahl Ibnu Hisyam atau Umar Ibnu Khattab. Ya Allah, siapa pun dari keduanya yang Engkau cintai, tunjuki ia ke Islam. Semua yang hadir mendengar doa itu, dan menirukannya dalam hati. Seketika Rasul selesai berdoa, serentak terdengar ucapan, Aamin.

Kegoncangan Umar

Suatu malam, ia tak tahan lagi, puncak amarah menembus ubun-ubunnya. Ia memutuskan untuk segera saja menghabisi jiwa orang yang dianngapnya biang kerok. Segera ia mengambil pedang, menghunusnya, lalu keluar rumah. Sisa purnama masih ada. Orang-orang sepanjang jalan sulit untuk tidak mengenali Singa padang Pasir yang lagi geram ini.

Tak lama kemudian, ia berpapasan dengan sepupunya Nu’aim ibnu Abdullah Annahm. Mata Nuaim hampir silau oleh pedang Umar yang mengkilat terhunus. Nu’aim yang agak gugup mencoba tetap diam. Tapi kemudian bertanya dengan lembut,
“Hendak kemana Umar?”
Umar yang di puncak amarah, setengah berteriak,
“Kemana!?… ha!! masih tanya juga! kemana lagi kalau bukan untuk menghabisi orang yang selama ini menjadi biang kerok, orang yang telah menghina agama nenek moyang Quraish serta merendahkan Tuhan-tuhan kita.”

Nuaim diam. “Orang itu tak akan menghina lagi”, sambung Umar sembari menebaskan pedangnya ke udara. Orang-orang yang rumahnya di pinggiran jalan hanya kuasa mengintip dari balik jendela. Sementara Nuaim kendati gugup punya keberanian menimpali,
“Siapa yang mengajarimu bahwa Kamu dapat membunuh Muhammad dengan mudah? Apa Kamu pikir, kalo berhasil membunuhnya lalu kamu bisa bebas begitu saja? Apa Kamu tidak sadar akan jumlah darah balasan yang akan dimintakan oleh pihak Banu Hasyim terhadap banu kita, banu Abi?”

Keduanya, kelihatan sedang beradu argumen. “Aku tahu sekarang! Engkau juga sudah tersihir oleh Muhammad”, balas Umar.
“Mendekatlah ke sini, akan kuobati engkau dengan pedang ini”, lanjut Umar.
“Engkau tertipu”, kata Nuaim menimpali. “Ternyata Engkau tak tahu bahwa saudaramu sendiri seorang muslim. Yah… Fatimah dan Suaminya, Said jauh lebih bijaksana dari pada Engkau. Mereka berdua tidak dungu untuk berpegang teguh pada ajaran jahilliyah begitu mereka mendengar kebenaran.”

“Bohong!”, bantah Umar. Ia kemudian merubah arah jalannya, menuju rumah saudaranya itu. “Jika demikian, maka merekalah yang harus mampus lebih dulu”, ketusnya. Jarak ke rumah Fatimah cukup jauh, karena itu amarah Umar sempat mereda sesampai di depan pintu. Ia mendengar penghuni rumah sedang membacakan Ayat-ayat Quran. Sejenak Umar berhenti. Lalu diketuknya pintu agak keras. Seisi rumah, Fatimah, suaminya Said dan Habbab, pembimbing mereka, berhenti membaca Quran.
“Siapa di luar?”, tanya Fatimah.
“Umar ibnu Khattab!”

Mendengar suara itu, Habbab gugup lalu menuju ke kamar, bersembunyi.
“Cepat, sembunyikan rontal itu”, bisik Said. Fatimah kemudian memasukkannya ke dalam gaungnya. Umar kembali mengetuk dengan ketukan yang lebih keras. Said membuka pintu, dan tampak olehnya Umar dengan pedang terhunus.
“Kalian sedang apa? Kamu pikir saya tak mendengarnya?”, gertak Umar.

“Tidak ada apa-apa”, jawab Fatimah tenang. “Kami sedang ngobrol biasa. “Umar naik pitam, “Bohong! Pengecut!” katanya. “Saya tahu bahwa kamu ikut tersihir”. Fatimah dan Said saling berpandangan. Lalu Said kemudian berujar, “Kini Umar telah tahu, tak ada yang patut disembunyikan. Tapi ketahuilah Umar, kebenaran itu bukan seperti yang Anda pahami”.

Ucapan ini keterlaluan bagi Umar. Ia marah, dan mencoba menyerang Said. Umar terlalu kuat, Said terjatuh. Menyaksikan itu, Fatimah menghentak Umar, dengan sekuat tenaga mencoba membela Suaminya, sekaligus saudara Muslimya.

“Lepaskan Dia!” Merasa terhalangi, Umar menampar saudara perempuannya sendiri. Pipi Fatimah merah, tapi ia menantang Umar, “Hai musuh Allah!”, katanya. “Engkau membenci kami hanya karena kami beriman?” “Benar”, kata Umar. ” Sekarang, lakukan apa saja yang kau mau”, Suara Fatimah menyambar bagai petir. “Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah. Engkau tak kuasa mengubah keyakinan kami. Apapun yang terjadi, kami tak akan pernah meninggalkan Islam. Umar terkesan mendengar keteguhan hati saudarinya itu, amarahnya seperti tersiram salju. Perlahan-lahan, Umar mereda.

Kemudian dengan suara perlahan, ia berkata, “Baiklah Saudariku! perlihatkanlah padaku apa yang sedang kalian baca! Sekiranya ia mengadung kebenaran, apa salahnya engkau memberi tahu aku.”

Fatimah ragu, ia memandang suaminya. “Saya berjanji tak akan membuangnya”, tambah Umar. “Akan Aku kembalikan”, Umar meyakinkan. “Baiklah!”, sahut Fatimah. “Tapi, basuh duluh wajahmu dengan air, Engkau tidak dalam kondisi membaca ayat suci”.

Umar kemudian menuju mengambil air, Habbab keluar dari kamar berbisik,
“Bagaimana engkau percaya pada orang yang demikian keras dan kejam?” “Aku tahu karakter saudaraku”, jawab Fatimah. Malah saya punya harapan besar bahwa Allah akan memberinya petunjuk. Habbab, meyaksikan Umar, kembali bersembunyi. Dengan doa dalam hati, Fatimah menyerahkan ayat Al-Quran itu pada saudaranya.

Umar membaca:
Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy (QS Thaahaa : 1-6)

Umar tertegun akan keagungan ayat-ayat suci itu. Segera ia insyaf akan kekeliruannya selama ini. Mata hatinya kini terbuka, tak mungkin ada Tuhan lain selain Allah. Muhammad kini diakuinya sebagai benar-benar Nabi. Kata yang pertama terucap baginya setelah membaca,
“Cepat! Dimana Muhammad? Beri tahulah aku!” Ipar dan saudarinya berdiri. Habbab yang keluar dari persembunyian berbisik pada Said, “Apakah ini menunjukan bahwa Doa Nabi terkabul?” Said diam saja, sembari memberi kode pada Fatimah, untuk memberi tahu di mana Nabi.

Pedang yang terhunus sejak awal disarungkan kembali oleh Umar. Ia kemudian menuju Rumah Arqam. Di dalam, Nabi dan para shahabat sedang duduk, Hamzah dan Talha berjaga di depan pintu. Umar mengetuk. “Siapa di luar?”, tanya Talha. Umar memberi respons, dan seketika suasana terdiam. Melihat gelagat para shahabat seolah ketakutan, Hamzah berucap, “Kenapa takut? Mungkin ia datang dengan maksud baik, untuk memeluk islam. Kalau tidak, tak soal, kita dengan mudah bisa meringkusnya.”

Ia kemudian memberi isyarat pada Talha untuk membuka pintu. Umar melangkah masuk. Hamzah dan Talha memegang tangan Umar dan membawanya menuju Nabi. Tapi, Nabi meminta mereka berdua untuk membiarkan Umar. Umar tak melangkah lagi. Nabi mendekat, Beliau membisiki Umar meletakkan pedang. Umar tak kuasa menolak, ia pasrah, bahkan berkesan tak bergerak. Nabi lalu angkat bicara, “Umar! Tinggalkanlah perbuatan maksiat, sebelum murka Allah menimpamu. Umar, terimalah Islam. Allah, beri dia petunjuk.”

Umar hanya bisa menjawab, “Apa yang seharusnya saya ucapkan?” Hamzah pun bicara, “Persaksikan bahwa Tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah”. Umar menoleh ke arah Hamzah, lalu ke arah Nabi, kemudian Umar berucap,
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Engkau Muhammad adalah Rasul Allah”.

Mendengar deklarasi itu, para shahabat serentak berucap, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Belum semenit memeluk Islam, Umar menambah kekuatan pada barisan kaum muslimin. Dukungannya terhadap Islam begitu antusias, melebihi antusiasnya ketika sebagai musuh. “Ya Rasulullah, kita harus memperjuangkan kebenaran ini sekarang juga?” Ya, tentu saja, jawab Nabi SAW. Kalau begitu, mari kita keluar memproklamirkan keyakinan kita ini secara terbuka, Ayo! Kita shalat di depan Ka’bah”.

Rasulullah mengiyakan. Para shahabat kemudian berbaris dua menuju Ka’bah yang satu dipimpin oleh Umar, lainnya lagi oleh Hamzah, keduanya adalah pemimpin Makkah yang sangat disegani. Antusiasme keislaman Umar dibuktikan dengan mendatangi beberapa pemimpin utama kaum Quraish, termasuk paman Nabi sendiri, Abu Jahal. Bukan itu saja, Ia bahkan mendatangi kerumunan kaum kafir seorang diri memproklamirkan keislamanya. Orang yang berani mempersalahkannya dihadapinya semua. Tapi, memang inilah yang diharapkan Umar. Keislaman Umar mengubah peta kekuatan Kota Mekah. Kaum kafir quraish tak semena-mena lagi melakukan penganiayaan terhadap kaum minoritas muslim.

 

ini adalah ringkasan dari naskah film Hijrah yang dtulis seorang teman baik saya, sahabat saya, tito. FILM hijrah ini diperankan oleh apprentices kami di SMK Sumberdaya Bekasi pada tahun 2008 lalu.

 

Oleh: sukma ragil | September 23, 2008

nasihat ku : tiga sandaran yang rapuh

Seorang ulama bijak mengatakan:

1. Barangsiapa hanya berpegang teguh pada akalnya, niscaya ia akan sesat jalan hidupnya.

2. Barang siapa mengandalkan hartanya, berarti dia orang yang miskin, karena betapapun banyaknya hartanya, ia tidak akan puas karenanya.

3. Barang siapa menggantungkan kemuliaannya kepada makhluk, dia orang yang terhina.

Nasaihul ‘ibad

Oleh: sukma ragil | September 23, 2008

dua suspect

ini adalah dua orang suspect pengusaha tergila indonesia (forbes 2010)

Oleh: sukma ragil | September 23, 2008

POJOK KOPI

WARUNG KOPI 24 dengan RASA KOPI INTERNASIONAL yang MAU BERDIRI habis lebaran ini (KONSEP)

Pojok Kopi merupakan kedai kopi yang menghadirkan dan mengajarkan seni minum kopi kepada pelanggan serta berupaya untuk menciptakan ruang publik tempat berinteraksi mahasiswa, pelajar, dan profesional di luar kampus.

Pojok Kopi menghadirkan menu-menu kopi terbaik khas Pojok Kopi. Terdiri atas menu KOPI Tradisional Khas Indonesia dan Internasional. Sebagaimana diketahui, bahwa semua jenis minuman kopi berbahan dasar espresso. Espresso sendiri serig disebut oleh orang indonesia dengan istilah kopi item, kopi trdisional. Di indonesia sendiri jenis biji kopi digolongkan atas dua jenis, yakni robusta (sebagian besar kopi yang dihasilkan oleh perkebunan di Sumatera) dan arabika (dihasilkan perkebunan2 di Sulawesi dan Jawa).

Dari espresso ini, dapat dibuat puluhan, ratusan jenis minuman kopi yang diramu dengan bahan-bahan emulsi pembuat minuman kopi terbaik di dunia.

Pojok kopi berusaha menghadirkan kopi-kopi terbaik di dunia dengan melakukan inovasi tiada henti melalui pembelajaran yang berkelanjutan para barrista kami.

Filosofi bisnis Pojok Kopi adalah membuat orang hidup dengan kopi.

Oleh: sukma ragil | September 18, 2008

cara menikmati kopi


CARA koe MENIKMATI KOPI dari HARI ke HARI:

Pertama, thanks untuk teman2 ( saya sebut teman padahal belum kenalJ) yang telah memberikan saya informasi mengenai bagaimana cara menikmati kopi. Jujur, saya sendiri baru menikmati kopi dari beberapa kecil jenis saja. Namun begitu saya juga memiliki cara tersendiri menkmati kopi:

Setelah sekian lama, secar coba2 saya akhirnya dapat menemukan cara menikmati kopi yang paling baik menurut insting/perasaan saya (hingga saat ini lho.)

Semuanya bermula dari cara memasak kopi.

Terakhir saya mendapatkan kopi toraja arabika yang dibelikan teman saya, THAMRIN yang orang Makassar asli. Waktu itu dia belikan saya 1 kg, harganya Rp.36.000

Awalnya saya membuat kopi dengan cara klasik anak2 kos pada umumnya; masukkan kopi satu takaran sendok dan dua takaran sendok gula ke gelas dan seduh dengan air panas dari dispenser. Tunggu 5-10 menit biar lidah g terbakar waktu nyeruput.

Sembari menunggu biasanya saya menyalakan jarum super saya (kopi=sahabat sejati=soulmate rokok djarumsuper kuJ, hoho..)

Nah, ketika 10 menit berlalu, saya mulai menyeruput, tentunya g langsung tenggak. Tapi saya nikmati dulu sekitar 10-15 ml (kok susah sihh ukurannya, ya sekitar sepertiaga isi mulut lah.. ), lalu tak klamutin dulu (bahasa jawanya di kenyam dulu, diputer2 di lidah dan diisep isep sampe bener2 dingin) sambil menghirup aromanya. Biasanya sambil menarik nafas dan ketika mengeluarkannya saya biasanya berkat lirih, subhanalloh..

Tapi, ternyata ada cara membuat kopi yang membuat klamutan saya lebih klenyem2,

Kali ini saya memasak kopi dengan memasukkannya pada wadah pemasak mie (udah dicuci bo’) yang airnya sudah mendidih (100 derajat C katanya). Nah, tuh uapnya langsung nerocos keluar dan aromanya….hummmm mantab bro!! gurih2 gimana gitu, udah kebayang nikmat kopinya.. lalu tak aduk2 lah..

Setelah baunya bener2 menyengat, tak angkat dan tak tuang ke gelas.. (eh gelasnya pecah!!). so ganti kutuang ke mug temenku… eh belum dicuci..walhasil kopi yang tadinya buat 3 porsi tinggal seporsi deh. Kumasukin saja ke mug pinjeman (g bilang2 sama arif, si empunya mugJ).

Lalu tak masukin gula pasir sekitar 2 sendok…

Dan BENAR! Rasanya emang luar biasa. Bahkan cara keduaku menikmati kopi item ; yaitu meminumnya waktu sudah benar2 dingin, menimbulkan efek yang berkali lipat dari diseduh! Hmmmmmmmmmmmm. Rsanya kayak mabok deh, teller, bahkan hamper mampus deh, sampe langsung lari ke toilet karena abdominal gw sakit, hampir2 mag gw kambuh.. men*&^t 2 deh akhirnya. Tapi kenikmatannya masih terasa sampe sehari lhoh…. RUARRRR BIASAAA, subhanalloh, walhamdulillah….. maha suci alloh yng menciptakan kaffa ini..

Nah, sampai saat ini dan masa yang akan, saya yakin saya akan berusaha menjadi seorang murid yang baik dari guru ber

Oleh: sukma ragil | September 15, 2008

Terkasih

Kekasih adalah segalanya,
pecinta hanya sebuah tabir.
Kekasih hidup abadi,
pencinta hanya benda mati.
Jika cinta meninggalkan perlindungan yang kuat.
pncinta akan ditingalkan seperti burung yang tanpa sayap.
Bagaimana aku akan terjaga dan sadar?
Jika tak disertai cahaya kekasih?
Cinta menghendaki Firman ini disampaikan.
Jika kita menemukan cermin kusam,
karat ini tidak terhapus dari wajahnya.
(mawlana Rumi)

Older Posts »

Kategori